Feeds:
Tulisan
Komentar

This is the last month of 2008, a lot of moments to remember, passed through the dry and rainy seasons. They were up and down. Rolled over and made a history of mine.
Worthies then ever, i had an enjoyful moments that shared with friends and people i’ve met during 2008.
Searching and searching for better and better ‘ME’ will be an unending journey.
I’d love to say…’thanks God, i can feel You everyday in my life’
In details, i’ve got so many achievements… some of them were new to me, some were the old but in better presence.
And humanly, there were so many failures too. I believe that everyone of us experienced those up and down, and one or more were the ‘magic or tremendouz moments’ that you all never predicted before.
If you wanna share some of them, that will be a wonderful stories.
So please go on and write i down, consider as a time for your relexation…

At least we knew and recognized what we’ve been through..

I believe the sharing will give you  some contemplation and preparation time  for 2009.

Thanks a lot…

Btw do you have some quotes and predictions for 2009? Better start thingking now!

takingnowhere1Some keywords:

…more than one billion people-a fifth of the world’s population-throughout the world live on less than a dollar a day….

…trade liberalization…

…labor flexibility…

…reduction of minimum wages…

…privatization of staterun enterprises…

…huge reductions in the size of government…

…food security and hunger…

…removal of subsidies…

…reduction of school enrollment…

…children work rather than go to school…

…privatization of health care systems…

…water privatization…

…environmental damages…

…control over their own economic decisions…

…just development…

Mungkin di antara kita ada yang familiar dengan penggalan-penggalan ini. Mudah-mudahan dapat membantu menambah istilah2 anda ketika ‘bercuap-cuap’ atau sekedar bicara ‘ngalor ngidul’ tentang ekonomi global.

Selamat mencari garis lurus dari penggalan-penggalan di atas.

Be prepared!!

Begitu kira-kira nasehat guruku abangku tercinta.

Keseharianku adalah PNS. Yang masuk pagi 7.30 dan baru bisa pulang setelah 17.00.
PNS bukan cita-citaku, karena seingatku sewaktu kecil aku terlalu pintar, untuk punya satu cita-cita.
Seolah-olah semua cita-cita teman2ku waktu itu sudah pernah terlintas di benakku. Terlalu nakal dan liar mungkin untuk anak seusia itu. Mengidolakan triad-triad Hongkong dengan segala aksinya, judi, wanita dan parlente sedikit mempengaruhi waktu itu. Apalagi dekat dengan keseharian kehidupan pasar membuat kata-kata cita2 sulit untuk aku terjemahkan.

Seiring berjalannya waktu diriku berproses menjadi seorang PNS, yang juga adalah profesi ompung-ompungku (pegawai kehutanan, kepolisian, dan kejaksaan di zaman dulu). Menjadi PNS dan birokrat mungkin telah ada dalam darahku.

Membandingkan birokrat zaman dulu dengan sekarang tentu saja sangat jauh berbeda. Apalagi berturut-turut negara ini sudah mengalami zaman revolusi, modernisai, dan reformasi. Menjadi PNS di kantor pusat membuat kita sangat dekat dekat pembuat kebijakan, termasuk ’suasana kebatinan’ pembuatan kebijakan itu sendiri.

Tenggelam=terlalu ‘dalam’
Hampir 2 tahun aku disini, di Jakarta ibukota 220juta penduduk Indonesia tercinta. Menyesuaikan antara harapan dan kenyataan menjadi sangat berbeda disini dibandingkan dengan pengalamanku sewaktu di daerah dulu. Dalam banyak hal aku bisa menikmati, namun tak kala masuk kedalam sini hati sanubari, ada yang kurang dan tidak seimbang. Jakarta menghidangkan mimpi indah sekaligus mimpi buruk bagi PNS seperti diriku. Godaan akan kemewahan dan glamorism sangat jelas di depan mata. Rutinitas sehari-hari terasa menjadi beban dibanding rasa syukur. Akankah ini pertanda aku sedang tenggelam dalam mimpi untuk menjadi pribadi yang lebih baik ataukah sebaliknya.

Abangku adalah orang yang sangat konservatif, bahkan cenderung sangat kolot realistis. Ketika aku menceritakan mimpi-mimpiku, saat itu juga dia memiliki segudang penjelasan dan argumen untuk membuatku melihat kenyataan dan tidak terlalu banyak menghayal. Walaupun sekedar menghayal memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dengan caraku sendiri.

Begitulah yang aku alami dalam 3 bulan terakhir ini. Mempertemukan dengan abangku yang dulu menyekolahkanku dari kampung adalah suatu kontemplasi yang luar biasa bagiku. Seperti ada gap jarak antara pikiranku dan pikiran konservatifnya. Adakah ini pertanda aku sudah sekian jauh tenggelam dengan kemandirian dan mimpi-mimpiku.

Ini bukan salah benar, tapi sebuah proses. Dan aku yakin banyak diantara kita yang sering kali butuh teman, keluarga yang mengingatkan kita menarik diri, atau sekedar mengambil jarak dari rutinitas keseharian yang menurunkan kadar kepekaan kita terhadap lingkungan sosial kita.

Thanks a lot abangku.

Memenuhi penugasan pimpinan dalam pemberian bimbingan teknis pelaksanaan anggaran 2008 serta penyusunan anggaran 2009. Bersama 3 orang rekan saya berangkat ke Malang, tepatnya ke Kanwil II Dirjen BC Jawa Timur. Senin 4-6 Agustus 2008
Bertiga kami naik pesawat sriwijaya air, satu2nya maskapai yang tersedia dari Jakarta-Malang-Jakarta.

Sengaja kami naik pesawat untuk menghemat waktu perjalanan, dan tenaga tentunya. Bila naik kereta api, memerlukan waktu kurang lebih 12 jam. Kalau pulang pergi berarti 1 hari penuh teralokasi di jalan, tentunya akan sangat membosankan. Disamping itu anggaran untuk transport sebesar 2juta per sangat sesuai dengan tarif yang ada, dengan pengeluaran real sebesar 1.430. Cukup longgarlah. Dengan mekanisme at cost untuk perjalanan dinas, tentunya sisa alokasi dana tidak dapat dicairkan.
Sesampainya di Bandara Abdulrahman Saleh, kami dijemput dan langsung menuju hotel Grand Palace, bintang 3 dengan pelayanan bagus, untuk ukuran kotamadya.

Setelah beristirahat, dan mandi, kamipun melanjutkan dengan acara makan malam di restoran Galunggung. Menyajikan masakan seafood yang masih segar. Dekorasi yang bernuansa tradisional dan dipenuhi bingkai foto2 artis selebritis, lengkap dengan tanda tangan dan komentarnya. Pendapat saya, dalam kesan pertama, masakannya lumayan, namun kurang dalam kesigapan pelayan, tambahan sambel yang saya minta baru disajikan setelah lauk saya habis. Kau makanlah sambalmu itu! Mungkin banyak pelayan yang ga masuk, atau karena pelanggan banyak. Tapi gpplah, itu bagian dari ’sajian’ juga.

Selepas makan malam kami langsung kembali ke hotel. Rencananya jalan2 keliling malang besok aja, setelah tugas selesai supaya lebih santai. Ternyata kota Malang terasa dingin di malam hari. Sebelum tidur seperti biasa tak lengkap rasanya kalau aku belum telpon laporan ke pangEnam, atasannya panglima, kekasih tercinta. Tidur cukup, mandi air hangat, lanjut dengan serapan pagi. Setelah menikmati serapan, kemudian kami menuju kantor sesuai penugasan. Tugas selesai pukul 15.00, kembali ke hotel, istirahat.
Melihat respon dari tuan rumah yang kurang mendukung dan dua temanku ada acara masing2, akhirnya aku inisiatif makan malam sendiri. Jauh2 dari Jakarta, kok makan McDonald hehehe.. Niatku bakso malang di kota Malang tak kesampaian. Mungkin belum rejeki.
Sehabis makan aku langsung kembali ke hotel, sambil online dengan PangEnam, kuhabiskan waktuku menikmati StarMovie dengan Black Septembernya Stephen Spielberg dan Ultravioletnya Mila Jovovic. Dan akhirnya tertidur pukul 12.00.
Serapan pagi dengan teman, makan siang dan akhirnya kembali ke Jakarta. I am home again.
Ada yang menarik selama aku naik pesawat, yaitu Pramugari2 Sriwijaya Air yang dengan semangat dan senyum menawarkan barang jualannya. Dengan harga ekonomis, dan kualitas lumayan. Boleh juga tuh, menghilangkan kejenuhan selama perjalanan.

Yang menarik lagi, aku belum bisa memanfaatkan kunjungan dinasku dengan wisata alam dan kuliner. Lain kali harus lebih terencana.
Tapi yang pasti, kekasihku tersenyum dengan oleh2 yang aku bawa. Dan tak sabar utk kembali le kantor. Rindu sama kompiku, dan semua program2 aplikasiku.
Ok sekian dulu. No offense for someone, i just want to share my journey.

@Borobudur Hotel, preparing JHCC 2006 National X’mas Celebration

we were a team? or we are a team?

(Marzuki, Ms, Tamara, Me, Lia , Alex, Budi, Virgin, Novi)

(Maya Namarina, TB SIlalahi, Tamam Hoesein)

Friday on May 9th 2008, soon after the final test ended, my TOEFL Preparation Class dismiss. We continued having lunch together which arranged by Mr.Black, one of my friendly classmate, at Hayam Wuruk Restaurant near the Training Center. It was very special moment to me. Having lunch with the Future Generations of Ministry of Finance, in the future it will be a moment to remind me some steps that I was taken as part of my career plans. Not only for me, but also for the rest of us.

We all completely gathered in a nice place and shared among us, the experiences, the next expectations, and also how the class that gave us some memories to be remembered at last. How every tutors gave their best during the class, and how each of us took a part in day by day lectures from Monday to Friday until one and a half months.

And what about the result? Yes it was an iBT Preparation, but there was something more important, and it was an opportunity in making friendship that seems to be achieved. We enjoyed our lunch like a number of people who are known each other for a long time. We laughed, shared some jokes, showed respect one to another, and closely feeling among us, those all as a maincourse completed with delicious lunch preserved by the resto.

I am so glad to say goodbye, to my class, to all my lovely tutors and the team, Mr.Karim, Mrs.Nancy, Mrs.Linda and Mrs.Evi, thanks for all of your supports and lectures in Speaking, Writing, Reading and Listening. Although your missions was over and well accomplish, but it was just the beginning for us. Improving our ability and skill in English won’t be over yet, so goodbye to you but welcome to the new preparation.

So, Thank you everyone, it’s been a great pleasure and wonderful moments sharing with all of you. I wish every best in your day.

Goodluck to you all of my classmate! Juan, Taufik, Kresia, Arisna, Pangi, Romeo, Black, Zef, Intan, Pram, Adzen, Kaesto, Dony, Rina, Beny, Desty, Cahyo, Didik, Nurbi, Agung2, Anwar.

Marudut R. Napitupulu

“Have no friends not equal to yourself”

besar-kecil.jpg

mau lebih lagi disini!

Warning!

Rakyat butuh hiburan. Bukan dongeng, yang membuat rakyat bermimpi tentang makanan yang lebih enak, perumahan yang lebih baik, pendidikan yang lebih baik, akses perawatan kesehatan yang terjangkau, lapangan kerja yang lebih banyak.

Rakyat butuh bukti bukan janji!

Bah kok jadi melenceng… (hehehehe menutupi kebanditan yang ga terbendung melihat morat-maritnya ibukota.. bah melenseng lagi!)

macet1.jpg

Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain adalah suatu rutinitas yang dilakukan masyarakat dimanapun mereka berada. Jakarta, ibukota negara, dengan kota berpenduduk terpadat di dunia ditopang dengan berbagai macam transportasi baik darat, laut maupun udara. Menghubungkan berbagai kepentingan dengan caranya yang unik. Keunikan yang tidak ada duanya, terutama bila dilihat dari sudut pandang konsumen pengguna alat transportasi yang ada.

 

Memperhatikan kesibukan yang dimulai dari pagi hari hingga petang, malam sampai terbitnya mentari, memberikan ironi yang cukup membuat kita berdecak kagum melihat perjuangan penduduk jakarta dalam menjalankan ‘rutinitas’ sehari-hari, yang bagi kebanyakan orang terlihat seperti keharusan yang dihadapkan pada pilihan yang tidak enak. Betapa tidak, mulai dari angkot, taksi, metromini, kopaja, bis kota, kereta api, sampai dengan transjakarta ‘bushway’ sepertinya jauh dari layak dikonsumsi. Alat transportasi darat yang terakhir, yang konon menelan biaya yang sangat besar, termasuk biaya sosial, masih jauh dari yang diharapkan. Memakan ruang yang sangat banyak, namun menajemen transportasinya masih perlu dikaji lagi.

 

Dari sisi tarif, hampir semuanya transportasi tersebut bisa dikatakan sangat terjangkau, namun harga yang dibayarkan harus ditambah dengan akumulasi paranoid, perasaan tidak aman, bahkan jauh dari kenyamanan bila dibandingkan dengan kondisi yang seharusnya dapat diciptakan dan dinikmati.

 

Permasalahan transportasi sarat dengan kepentingan. Betapa tidak, uang yang beredar pada sektor sarana publik ini jumlahnya sangat menggiurkan. Baik yang secara langsung maupun tidak langsung. Berbagai kepentingan yang ada, semuanya mengutamakan rupiah yang dapat dimaksimalkan bagi kepntingan sendiri. Sebut saja pengusaha bis, pengusaha angkot, birokrat perijinan, organisasi kepemudaan dan kedaerahan, bahkan bagian eksekutif pemerintahan yang meraup keuntungan dari kondisi morat-marit manajemen transportasi.

 

Bagaimana dengan tanggapan masyarakat pengguna?

Pasrah, dan menggerutu dan bermimpi?

Dalam transaksi jual-beli, dimana mempertemukan titik temu penawaran penjual dengan permintaan pembeli, sarana transportasi yang ada hanya memberikan sedikit ruang bagi pembeli dalam hal ini pengguna untuk memaksimalkan kepuasan dalam menggunakan manfaat yang dibeli, alias lebih banyak kondisi terpaksa atas pilihan-pilihan yang ada. Sangat jarang kita mendengarkan adanya sekelompok masyarakat yang dengan suara bulat menyampaikan keluhan bahkan menuntut adanya perbaikan yang lebih baik terhadap failitas publik yang sangat vital ini, yang ada juga sekelompok sopir yang dengan pendukungnya yang mogok karena lahannya diserobot.

 

Kondisi yang terjadi, justeru masyarakat berusaha meningkatkan kualitas sarana transportasi dengan cara memiliki kendaraan pribadi, atau kendaraan bagi komunitas dalam satu wilayah, bukan secara keseluruhan. Sehingga menciptakan masalah yang baru dan menguntungkan pihak penyedia alat transportasi, yang sebagaimana kita ketahui tak satupun kendaraan ini diproduksi di dalam negeri. Motor-motor, yang didominasi pabrikan salah satu negara pabrikan asia timur, termasuk kendaraan pribadi, mengakibatkan jalanan ibukota seperti semut yang egois, berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan liar menghabiskan rutinitas dengan cara yang sangat destruktif.

 

Tak jarang kita mendengar bunyi klakson yang memekakkan telinga, melihat angkot yang berhenti seenaknya, keributan akibat bersenggolan, kendaraan yang kebut-kebutan, dan bahkan pada sudut-sudut tertentu seperti tak ada rambu lalu lintas. Jangankan larangan memutar atau berbelok, lampu merah yang ditujukan untuk keteraturan justeru dipandang sebagai penghambat yang memperlambat waktu perjalanan.

 

Aneh… dan akan membuat orang-orang yang baru datang dari kampung, bila tidak alergi, akan kaget menyesuaikan diri. Betapa tidak, sebut saja kereta api, yang orang dengan santainya duduk di atas kereta api yang sangat dekat dengan kabel listrik bertegangan tinggi, hanya beberapa centi dari maut. Setiap hari. Atau penumpang yang bergelantungan di bis kota untuk mengejar waktu, bermandi keringat dan bercampur dengan wajah-wajah paranoid penumpang yang lain, seolah-olah semuanya akan setuju bila waktu berhenti beberapa saat hanya untuk bernafas lega dan menikmati jiwa masih bersatu dengan raganya.

 

Harus diwaspadai!

Berpindah dari satu tempat ke tempat lain adalah suatu keharusan. Karena dengan demikianlah kita akan menghabiskan waktu kita, berinteraksi satu dengan yang lain, mengisi rutinitas dengan kata lain itulah bagian dari hidup. Akumulasi dari rutinitas akan menjadi kebiasaan, dan mendominasi alam bawah sadar kita dalam memberikan masukan ke otak untuk merespon lingkungan di sekitar kita. Akumulasi negatif dari kebiasaan ini akan memberikan pengaruh yang buruk terhadap perilaku, bahkan bersifat destruktif.

Betapa tidak, wajah-wajah paranoid, keletihan yang berlebihan, mencari solusi permasalahan hidup yang direnungkan pada saat berkendaraan dengan kondisi yang tidak nyaman, akan lebih banyak menghasilkan pemecahan yang bersifat praktis dan mengambil jalan pintas. Berlomba untuk mencari sendiri kenyaman individual, keluar dari masalah dengan meninggalkan masalah itu sendiri. Suatu pembodohan yang akan melekat dalam perilaku, dan kebiasaan hidup.

 

Ah betapa sebuah kebiasaan dominan di ibukota negara ini telah menciptakan kondisi yang buruk bagi perkembangan psikologis dan perilaku penduduknya. Rasa-rasanya transportasi yang nyaman tidak mungkin diperoleh oleh siapapun, termasuk pimpinan tertinggi republik ini yang setiap melintas pada saat puncak kesibukan, harus menerima umpatan maklum rakyatnya.

 

Sampai kapan?

Semoga penduduk Jakarta, mampu bertahan menunggu terciptanya model transportasi massal yang memberikan titik temu bagi kepatuhan penduduknya terhadap sebuah pemerintahan. Siapa yang memulai dan dari mana? Meletakkan sebuah perubahan dalam pundak pemerintah belum menjadi kebiasaan bagi republik ini. Saling melempar dan saling menuding bukan hal yang baru. Terkecuali revolusi. Kondisi yang menciptakan keharusan perubahan, yang oleh karenanya menelan korban yang kemudian terbilang sebagai tumbal perubahan. Akankah sebuah revolusi transportasi tercipta?

Senang rasanya aku mendengar kabar baik darimu. Kemarin aku memikirkan hidupmu dengan segala tetek bengeknya.

Then you called me ‘I am your bestfriend’, ucapmu setelah menceritakan ‘happy news’ yang baru saja kau terima.

 

Kabar gembira yang kau sampaikan membuatku bersyukur, sekaligus melihat sebuah manfaat positif bagimu dari perpisahan kita. Cool..

 

Rasa yang pernah kau tinggalkan tak bisa dipungkiri menjadi perdebatan antara benci dan sayang. Sangat sulit menyaring, dan memisahkan ke dalam dua kotak itu. Sangat sulit memilah waktu yang kita lewati bersama, memutuskan yang mana ‘kau jahat’ yang mana kau jadi ‘hancinkasman-ku’ (honey,cinta,kasih,manja-ku).

 

Pernah suatu ketika aku merindukanmu, dan aku tahu kaupun begitu.

Aku memutuskan untuk melangkah… melangkah jauh.

Sekalipun tak ada ragu, tapi aku tahu ada perasaan rindu. Bukan merindukanmu yang sekarang. Hanya sosokmu yang dulu, yang jauh dari duniaku. Membuatku tertarik ke dalam dunia baru yang akupun sepertinya mau. Sosok itu sepertinya masih bisa datang berturut-turut dalam hitungan waktu, satu persatu, sampai pada saat aku tak sadar kalau kau tak berada di dunia itu lagi.

 

Kaget rasanya menyadari. Kucoba meraba merangkai sosokmu. Mengelus-elus rambutmu, membayangkan aromamu dalam pejam mataku, tak kutemukan ‘dia’ yang pernah kurindu, pernah membuatku memohon berhentinya sang waktu. Dan seketika aroma kebencian, dendam dan amarah menggantikan sosokmu. Penyesalan membuatku heran, bahkan keraguan kupandang sebagai sebuah jawaban. Aneh… aku menikmati rentetan waktu dan semua jalinan kisah yang terjadi. Menikmati dengan caraku sendiri, yang seolah-olah tersenyum menantang dan mengingkari kesendirianku.

 

Hari berganti, bulan berputar kembali. Hampir setahun telah kita putuskan untuk tak lagi terikat pada janji, pada komitmen berbagi dengan cara kita sendiri. Kau sudah ada yang punya, dan aku sudah pun dapat kekasih tercinta.

 

Melangkah, menghitung hari. Menyusuri hari esok yang akan menjadi esok tak kala mentari terbenam dan bersinar kembali. Beragam aroma yang pernah kau tinggalkan kan selalu terangkai, menjadi sebuah kisah yang tak dapat diulang kembali. Hanya sang waktu yang bisa menjawab, membantuku memaknai, membawa arti dari sepuluh tahun yang pernah terlewati, pernah terbagi, untuk menjadi sebuah senyuman yang untuknya sebuah kisah pernah terjadi.

 

‘be happy’ mantanku, aku mau bermimpi indah tentang hari esokku.

blink-think.jpg

Inspired by Blink!

Berarti bisa jadi lebih baik atau sebaliknya.

Seringkali menjalani hari-hari dalam hidup menjadi sebuah rutinitas, bangun pagi sampai tidur lagi, bangun dan tidur lagi. Satu hari tercoret.. dua hari berlalu.

Bagaimana dengan anda? Sudahkah anda merencanakan untuk sesuatu yang lebih berarti di hari ini, besok atau lusa.

Ceria, Optimis, Sukses, Beragam, Colourful, Dinamis, Mantap, Bagus, Cerdas, Mengerti, Paham, Ceria, Merdeka, Tersenyum, Cantik, Manis, Buah, Susu Coklat, Strawberry, Dollar, Musik, adalah sejumlah kata-kata yang akan muncul dalam hari-hari anda. Apakah kata-kata ini berarti untuk optimisme anda?

Menurutku iya.

Apa yang membuat hari-hari kita berarti adalah konsep bawah sadar yang mengirimkan suasana hati yang susah untuk dijelaskan oleh semua orang.

Tertarik untuk menambahkan ‘kata’ di atas? Silahkan saja… Kekuatan kata akan mempengaruhi pikiran bawah sadar anda, membawa anda ke alam yang lebih berarti sekedar bangun pagi dan tidur di malam hari… eh dari pada bilang tidur mending diganti dengan istirahat.. karena tidur kesannya tidak optimis, tapi istirahat lebih pada waktu membawa kita ke suasana yang lebih tenang, lebih damai, di alam mimpi indah.. untuk siap menjalani hari-hari lebih berarti.

Tulisan Sebelumnya »