Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain adalah suatu rutinitas yang dilakukan masyarakat dimanapun mereka berada. Jakarta, ibukota negara, dengan kota berpenduduk terpadat di dunia ditopang dengan berbagai macam transportasi baik darat, laut maupun udara. Menghubungkan berbagai kepentingan dengan caranya yang unik. Keunikan yang tidak ada duanya, terutama bila dilihat dari sudut pandang konsumen pengguna alat transportasi yang ada.
Memperhatikan kesibukan yang dimulai dari pagi hari hingga petang, malam sampai terbitnya mentari, memberikan ironi yang cukup membuat kita berdecak kagum melihat perjuangan penduduk jakarta dalam menjalankan ‘rutinitas’ sehari-hari, yang bagi kebanyakan orang terlihat seperti keharusan yang dihadapkan pada pilihan yang tidak enak. Betapa tidak, mulai dari angkot, taksi, metromini, kopaja, bis kota, kereta api, sampai dengan transjakarta ‘bushway’ sepertinya jauh dari layak dikonsumsi. Alat transportasi darat yang terakhir, yang konon menelan biaya yang sangat besar, termasuk biaya sosial, masih jauh dari yang diharapkan. Memakan ruang yang sangat banyak, namun menajemen transportasinya masih perlu dikaji lagi.
Dari sisi tarif, hampir semuanya transportasi tersebut bisa dikatakan sangat terjangkau, namun harga yang dibayarkan harus ditambah dengan akumulasi paranoid, perasaan tidak aman, bahkan jauh dari kenyamanan bila dibandingkan dengan kondisi yang seharusnya dapat diciptakan dan dinikmati.
Permasalahan transportasi sarat dengan kepentingan. Betapa tidak, uang yang beredar pada sektor sarana publik ini jumlahnya sangat menggiurkan. Baik yang secara langsung maupun tidak langsung. Berbagai kepentingan yang ada, semuanya mengutamakan rupiah yang dapat dimaksimalkan bagi kepntingan sendiri. Sebut saja pengusaha bis, pengusaha angkot, birokrat perijinan, organisasi kepemudaan dan kedaerahan, bahkan bagian eksekutif pemerintahan yang meraup keuntungan dari kondisi morat-marit manajemen transportasi.
Bagaimana dengan tanggapan masyarakat pengguna?
Pasrah, dan menggerutu dan bermimpi?
Dalam transaksi jual-beli, dimana mempertemukan titik temu penawaran penjual dengan permintaan pembeli, sarana transportasi yang ada hanya memberikan sedikit ruang bagi pembeli dalam hal ini pengguna untuk memaksimalkan kepuasan dalam menggunakan manfaat yang dibeli, alias lebih banyak kondisi terpaksa atas pilihan-pilihan yang ada. Sangat jarang kita mendengarkan adanya sekelompok masyarakat yang dengan suara bulat menyampaikan keluhan bahkan menuntut adanya perbaikan yang lebih baik terhadap failitas publik yang sangat vital ini, yang ada juga sekelompok sopir yang dengan pendukungnya yang mogok karena lahannya diserobot.
Kondisi yang terjadi, justeru masyarakat berusaha meningkatkan kualitas sarana transportasi dengan cara memiliki kendaraan pribadi, atau kendaraan bagi komunitas dalam satu wilayah, bukan secara keseluruhan. Sehingga menciptakan masalah yang baru dan menguntungkan pihak penyedia alat transportasi, yang sebagaimana kita ketahui tak satupun kendaraan ini diproduksi di dalam negeri. Motor-motor, yang didominasi pabrikan salah satu negara pabrikan asia timur, termasuk kendaraan pribadi, mengakibatkan jalanan ibukota seperti semut yang egois, berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan liar menghabiskan rutinitas dengan cara yang sangat destruktif.
Tak jarang kita mendengar bunyi klakson yang memekakkan telinga, melihat angkot yang berhenti seenaknya, keributan akibat bersenggolan, kendaraan yang kebut-kebutan, dan bahkan pada sudut-sudut tertentu seperti tak ada rambu lalu lintas. Jangankan larangan memutar atau berbelok, lampu merah yang ditujukan untuk keteraturan justeru dipandang sebagai penghambat yang memperlambat waktu perjalanan.
Aneh… dan akan membuat orang-orang yang baru datang dari kampung, bila tidak alergi, akan kaget menyesuaikan diri. Betapa tidak, sebut saja kereta api, yang orang dengan santainya duduk di atas kereta api yang sangat dekat dengan kabel listrik bertegangan tinggi, hanya beberapa centi dari maut. Setiap hari. Atau penumpang yang bergelantungan di bis kota untuk mengejar waktu, bermandi keringat dan bercampur dengan wajah-wajah paranoid penumpang yang lain, seolah-olah semuanya akan setuju bila waktu berhenti beberapa saat hanya untuk bernafas lega dan menikmati jiwa masih bersatu dengan raganya.
Harus diwaspadai!
Berpindah dari satu tempat ke tempat lain adalah suatu keharusan. Karena dengan demikianlah kita akan menghabiskan waktu kita, berinteraksi satu dengan yang lain, mengisi rutinitas dengan kata lain itulah bagian dari hidup. Akumulasi dari rutinitas akan menjadi kebiasaan, dan mendominasi alam bawah sadar kita dalam memberikan masukan ke otak untuk merespon lingkungan di sekitar kita. Akumulasi negatif dari kebiasaan ini akan memberikan pengaruh yang buruk terhadap perilaku, bahkan bersifat destruktif.
Betapa tidak, wajah-wajah paranoid, keletihan yang berlebihan, mencari solusi permasalahan hidup yang direnungkan pada saat berkendaraan dengan kondisi yang tidak nyaman, akan lebih banyak menghasilkan pemecahan yang bersifat praktis dan mengambil jalan pintas. Berlomba untuk mencari sendiri kenyaman individual, keluar dari masalah dengan meninggalkan masalah itu sendiri. Suatu pembodohan yang akan melekat dalam perilaku, dan kebiasaan hidup.
Ah betapa sebuah kebiasaan dominan di ibukota negara ini telah menciptakan kondisi yang buruk bagi perkembangan psikologis dan perilaku penduduknya. Rasa-rasanya transportasi yang nyaman tidak mungkin diperoleh oleh siapapun, termasuk pimpinan tertinggi republik ini yang setiap melintas pada saat puncak kesibukan, harus menerima umpatan maklum rakyatnya.
Sampai kapan?
Semoga penduduk Jakarta, mampu bertahan menunggu terciptanya model transportasi massal yang memberikan titik temu bagi kepatuhan penduduknya terhadap sebuah pemerintahan. Siapa yang memulai dan dari mana? Meletakkan sebuah perubahan dalam pundak pemerintah belum menjadi kebiasaan bagi republik ini. Saling melempar dan saling menuding bukan hal yang baru. Terkecuali revolusi. Kondisi yang menciptakan keharusan perubahan, yang oleh karenanya menelan korban yang kemudian terbilang sebagai tumbal perubahan. Akankah sebuah revolusi transportasi tercipta?