Senang rasanya aku mendengar kabar baik darimu. Kemarin aku memikirkan hidupmu dengan segala tetek bengeknya.
Then you called me ‘I am your bestfriend’, ucapmu setelah menceritakan ‘happy news’ yang baru saja kau terima.
Kabar gembira yang kau sampaikan membuatku bersyukur, sekaligus melihat sebuah manfaat positif bagimu dari perpisahan kita. Cool..
Rasa yang pernah kau tinggalkan tak bisa dipungkiri menjadi perdebatan antara benci dan sayang. Sangat sulit menyaring, dan memisahkan ke dalam dua kotak itu. Sangat sulit memilah waktu yang kita lewati bersama, memutuskan yang mana ‘kau jahat’ yang mana kau jadi ‘hancinkasman-ku’ (honey,cinta,kasih,manja-ku).
Pernah suatu ketika aku merindukanmu, dan aku tahu kaupun begitu.
Aku memutuskan untuk melangkah… melangkah jauh.
Sekalipun tak ada ragu, tapi aku tahu ada perasaan rindu. Bukan merindukanmu yang sekarang. Hanya sosokmu yang dulu, yang jauh dari duniaku. Membuatku tertarik ke dalam dunia baru yang akupun sepertinya mau. Sosok itu sepertinya masih bisa datang berturut-turut dalam hitungan waktu, satu persatu, sampai pada saat aku tak sadar kalau kau tak berada di dunia itu lagi.
Kaget rasanya menyadari. Kucoba meraba merangkai sosokmu. Mengelus-elus rambutmu, membayangkan aromamu dalam pejam mataku, tak kutemukan ‘dia’ yang pernah kurindu, pernah membuatku memohon berhentinya sang waktu. Dan seketika aroma kebencian, dendam dan amarah menggantikan sosokmu. Penyesalan membuatku heran, bahkan keraguan kupandang sebagai sebuah jawaban. Aneh… aku menikmati rentetan waktu dan semua jalinan kisah yang terjadi. Menikmati dengan caraku sendiri, yang seolah-olah tersenyum menantang dan mengingkari kesendirianku.
Hari berganti, bulan berputar kembali. Hampir setahun telah kita putuskan untuk tak lagi terikat pada janji, pada komitmen berbagi dengan cara kita sendiri. Kau sudah ada yang punya, dan aku sudah pun dapat kekasih tercinta.
Melangkah, menghitung hari. Menyusuri hari esok yang akan menjadi esok tak kala mentari terbenam dan bersinar kembali. Beragam aroma yang pernah kau tinggalkan kan selalu terangkai, menjadi sebuah kisah yang tak dapat diulang kembali. Hanya sang waktu yang bisa menjawab, membantuku memaknai, membawa arti dari sepuluh tahun yang pernah terlewati, pernah terbagi, untuk menjadi sebuah senyuman yang untuknya sebuah kisah pernah terjadi.
‘be happy’ mantanku, aku mau bermimpi indah tentang hari esokku.
Sakit rasanya kalau seseorang yang pernah dekat dengan diri kita tapi karena sesuatu hal harus berpisah. Dan akan lebih menyakitkan kalau ternyata menimbulkan kemarahan dan luka. Tapi alangkah indah dan damainya kalau segala kemarahan itu bisa hilang dan menciptakan hubungan yang baru yaitu Sahabat.
Sedikit curhat bang, dongan samarga dan tetanggamu itu aneh bin ajaib. Aku merasa dia seperti menggantung dan mempermainkan perasaanku. Tapi aku akan ikuti kemauannya untuk menyelesaikan semua secara baik-baik dan gentleman (Itu istilahnya, padahal aku harusnya lady…hehehe) saat aku pulang 8 bulan lagi.
Mungkin nanti semua akan terjawab setelah penantian dan ketidak pastian selama 2 tahun…
Aku ga tahu lagi menghadapi ampara abang itu…
Marudut R. Napitupulu
Hadapilah dengan hati dan perasaanmu, dan selalu mengambil keputusan dengan pertimbangan jangka panjang. Setahuku bedanya perempuan dan laki2 adalah pada saat mengambil keputusan yang satu lebih menggunakan emosi yang satu dengan rasio. Untuk hal-hal yang sangat mendasar, mungkin Tulang dan Nantulang pasti bisa membantumu. Apalagi masih 8 bulan lagi, harusnya kau akan lebih siap dek. I hope you got the best for both of you.
Alangkah indah dan damainya….. bah jadi kuingat si Indah hehehehehe
Ketemu hari itu kami di Arion, kak Indah sama Maria.. Lagi beli2 sepatu orang itu. Aku lagi sama pacarku, sebelum diinterogasi lebih lanjut, aku langsung kabur cepat2. Hehehehehehe
Tangis au daba manjaha udut, sampe kaluar sian ginjang dohot sian toru (just kidding).ima ittong itinggalhon ho do tikki au najolo. sonari ngairasahon ho be nahurasahoni hahaha. jadi andigan do mardalan undangani?
btw, songonna so hea do poang pak butet diantoi ho au. aha salakku huhuhu( asa songonna ngeri )
Hai, Bang Udut … jauh kali perjalanan saya supaya nyampe ke blog Abang ini. Awalnya ga yakin kalo ini emang Bang Marudut yang saya kenal, sampe kemudian saya baca komentar Ka Stella.
Sepertinya ada banyak cerita dan perkembangan yang gak saya ikutin, hehee …. Tapi, tetap semangat-lah, ya, Bang. “Karena ada hitam, maka putih itu bisa disebut sebagai putih”, gitu kira2.
Aduh, sok menasehati gini, aku. Yah .. intinya, yang senang kalinya aku menemukan blog Abang ini. Heheheee ….
Keep posting ya, Bang.
Marudut R. Napitupulu
Makasih ya Mona. Aku juga penyuka hitam dan putih. Senang juga aku baca komentarmu.
Salam manis adek.
Ise ma ulaning i ate Lae?
abang, melankolis kali bang. Senang aq bisa liat blog mu bang, senang baca tulisan2 mu sperti ini bang. Keep on posting ya bang.
Tuhan memberkati.