Begitu kira-kira nasehat guruku abangku tercinta.
Keseharianku adalah PNS. Yang masuk pagi 7.30 dan baru bisa pulang setelah 17.00.
PNS bukan cita-citaku, karena seingatku sewaktu kecil aku terlalu pintar, untuk punya satu cita-cita.
Seolah-olah semua cita-cita teman2ku waktu itu sudah pernah terlintas di benakku. Terlalu nakal dan liar mungkin untuk anak seusia itu. Mengidolakan triad-triad Hongkong dengan segala aksinya, judi, wanita dan parlente sedikit mempengaruhi waktu itu. Apalagi dekat dengan keseharian kehidupan pasar membuat kata-kata cita2 sulit untuk aku terjemahkan.
Seiring berjalannya waktu diriku berproses menjadi seorang PNS, yang juga adalah profesi ompung-ompungku (pegawai kehutanan, kepolisian, dan kejaksaan di zaman dulu). Menjadi PNS dan birokrat mungkin telah ada dalam darahku.
Membandingkan birokrat zaman dulu dengan sekarang tentu saja sangat jauh berbeda. Apalagi berturut-turut negara ini sudah mengalami zaman revolusi, modernisai, dan reformasi. Menjadi PNS di kantor pusat membuat kita sangat dekat dekat pembuat kebijakan, termasuk ’suasana kebatinan’ pembuatan kebijakan itu sendiri.
Tenggelam=terlalu ‘dalam’
Hampir 2 tahun aku disini, di Jakarta ibukota 220juta penduduk Indonesia tercinta. Menyesuaikan antara harapan dan kenyataan menjadi sangat berbeda disini dibandingkan dengan pengalamanku sewaktu di daerah dulu. Dalam banyak hal aku bisa menikmati, namun tak kala masuk kedalam sini hati sanubari, ada yang kurang dan tidak seimbang. Jakarta menghidangkan mimpi indah sekaligus mimpi buruk bagi PNS seperti diriku. Godaan akan kemewahan dan glamorism sangat jelas di depan mata. Rutinitas sehari-hari terasa menjadi beban dibanding rasa syukur. Akankah ini pertanda aku sedang tenggelam dalam mimpi untuk menjadi pribadi yang lebih baik ataukah sebaliknya.
Abangku adalah orang yang sangat konservatif, bahkan cenderung sangat kolot realistis. Ketika aku menceritakan mimpi-mimpiku, saat itu juga dia memiliki segudang penjelasan dan argumen untuk membuatku melihat kenyataan dan tidak terlalu banyak menghayal. Walaupun sekedar menghayal memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dengan caraku sendiri.
Begitulah yang aku alami dalam 3 bulan terakhir ini. Mempertemukan dengan abangku yang dulu menyekolahkanku dari kampung adalah suatu kontemplasi yang luar biasa bagiku. Seperti ada gap jarak antara pikiranku dan pikiran konservatifnya. Adakah ini pertanda aku sudah sekian jauh tenggelam dengan kemandirian dan mimpi-mimpiku.
Ini bukan salah benar, tapi sebuah proses. Dan aku yakin banyak diantara kita yang sering kali butuh teman, keluarga yang mengingatkan kita menarik diri, atau sekedar mengambil jarak dari rutinitas keseharian yang menurunkan kadar kepekaan kita terhadap lingkungan sosial kita.
Thanks a lot abangku.
Horas Ampara…
Boado Kabar…
Ivo Na70
ivo_na70@yahoo.com
Horas Ampara…..
Boado Kabar……
Sehat do khn?
Terus terang, jago do blog ni ampara on bah……
Na Sabulan on torus do hu hu buka….
Menarik do sude isi ni blog ni ampara on….
Apalagi Tulisan na terakhir ni ampara on : : Jangan Tenggelam Kau Dek”
Mudah2an ma bermanfaat tusude angka dongan na manjaha jala na mamboto lapatananna…..
Selamat Berkarya ma ate ampara….
Sai Tuhanta ma antong na mandongani hita di saluhut angka langkatta tu joloan ni ari…
Mauliate….
Btw…..
Salam Tu Abang Agus….
Horas…
Marudut R. Napitupulu
Mauliate appara. Sai songoni ma nang langka ni appara.
Hupasahat pe salam ni lae tu Bang Agus. Horas
Betul itu.Lae. Ucapan yg muncul dari si penimba ilmu dari pengalaman kadang taste nya lebih. Salut buat para Abang-abang yg spt ini dimana pun mereka berada. Ya nggak virus? eh Dek
Marudut R. Napitupulu
Hehehehe.. dibacca abangku ini rupanya bah.
Kalau sudah abang bilang betul, jadi kubayangkan abang lagi nasehatin si Dina
Mudah2an si ‘virus’ bisa bermanfaat.
Salam hangat Bang. Horas
Satu lagi Kisah Anak Rantau yang menarik. Terus terang saya kurang memahami makna “tenggelam”. Apakah larut dalam mimpi – atau kalau saya boleh menyebutnya cita, angan, impian, harapan yang semu – menurut saya, (menurut saya lho) setiap insan muda pasti pernah merasakannya; termasuk saya, termasuk bang Agus – mungkin saja – bedanya, tidak semua orang menyadarinya, memandang, menilai, menyikapi, dan akhirnya mengevaluasi diri, ya, itu tadi, yang abang bilang … Suatu Proses, bukan sekedar pandangan skeptis.
Salut buat bang Marudut, yang punya kebanggaan dalam diri seorang abang; walau dari sudut yang sempit saja saya dapat melihat, tapi saya yakin, Bang Agus adalah Raja di hati-mu.
Secara pribadi (saya termasuk diantara orang yang tidak dapat memahami proses itu) saya ingin menyampaikan salam saya, salam kami tentunya (dari huta kita, bang) … salam buat Bang Agus, buat Bang Udut juga, tentu saja ..
Tuhan memberkati …
Marudut R. Napitupulu
Mauliate anggia. Tuhan Meberkati Kita, bersama impian2 kita. Salam Hormat buat rekan-rekan di bonapasogit, dongan magodang dht dongan manakko manuk hehehehe… (dasar Napitupulu pangemur ate).